PALANGKA RAYA, Kaltenghit.com – Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kalimantan Tengah terus diperkuat melalui Operasi Siaga Darurat Karhutla. Satgas Udara, Satgas Darat, serta unsur gabungan lintas sektor dikerahkan untuk melakukan patroli, pemadaman, pendinginan, hingga pencegahan agar api tidak meluas.
Pada Selasa (4/8/2026), operasi penanganan Karhutla masih berlangsung di sejumlah wilayah, dengan salah satu fokus utama berada di kawasan Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau.
Dalam operasi tersebut, Satgas Udara mengerahkan armada patroli untuk memantau wilayah rawan Karhutla. Helikopter water bombing juga disiagakan untuk mendukung pemadaman berdasarkan hasil pemantauan udara dan kebutuhan di lapangan.
Sementara Satgas Darat mengerahkan 17 regu yang bertugas melakukan pemadaman, patroli kawasan rawan, pendinginan lokasi terbakar, serta merespons laporan kebakaran di sejumlah wilayah.
Penanganan di kawasan Tumbang Nusa diperkuat dengan melibatkan 32 regu dari berbagai unsur. Mereka terdiri dari BPBPK Provinsi Kalimantan Tengah, TNI, Polri, Tim Serbu Api Kecamatan (TSAK), Masyarakat Peduli Api (MPA), Barisan Pemadam Kebakaran (BPK), serta unsur pendukung lainnya.
Tim gabungan memprioritaskan pemadaman titik api, pendinginan lahan gambut, patroli kawasan rawan, serta pencegahan agar api tidak kembali muncul dan meluas.
Selain Tumbang Nusa, penanganan juga dilakukan di sejumlah wilayah, di antaranya Tanjung Taruna Kabupaten Pulang Pisau, Kota Palangka Raya, Kabupaten Katingan, dan Kameloh Baru.
Berbagai peralatan digunakan untuk mendukung operasi, mulai dari mesin pemadam, kendaraan operasional, pompa air, selang, drone pemantauan, tangki air, sumur bor hingga alat berat.
256 Hotspot Terdeteksi
Berdasarkan pemantauan BMKG Stasiun Meteorologi Tjilik Riwut Palangka Raya pada 4 Agustus 2026, terdeteksi sebanyak 256 titik panas (hotspot) di wilayah Kalimantan Tengah.
Sebaran hotspot terbanyak berada di Kabupaten Kotawaringin Timur dengan 62 titik, Kabupaten Pulang Pisau 57 titik, dan Kabupaten Sukamara sebanyak 33 titik.
Data penanganan hingga 4 Agustus 2026 juga mencatat 238 titik hotspot harian, 25 kejadian Karhutla, satu kegiatan groundcheck, serta luas lahan terdampak mencapai 43,608 hektare.
Secara akumulatif sejak 1 Januari hingga 4 Agustus 2026, tercatat 4.883 titik hotspot, 933 kejadian Karhutla, dan total luas lahan terbakar mencapai 1.760,74 hektare.
Sebagian besar lokasi kebakaran telah berhasil dikendalikan. Namun, sejumlah titik masih membutuhkan pemadaman dan pendinginan, terutama pada kawasan lahan gambut yang memiliki potensi penyebaran api.
Dukungan helikopter water bombing juga terus dilakukan, khususnya di wilayah terdampak seperti Kota Palangka Raya dan Kabupaten Pulang Pisau.
Patroli dan Pencegahan Diperkuat
Selain pemadaman, Satgas Karhutla terus mengintensifkan upaya pencegahan melalui patroli darat dan udara.
Patroli dilakukan untuk memantau perkembangan hotspot sekaligus mencegah munculnya titik api baru. Petugas juga aktif memberikan sosialisasi kepada masyarakat terkait larangan membuka lahan dengan cara membakar serta ancaman hukum bagi pelaku pembakaran hutan dan lahan.
Status Siaga Darurat Karhutla Provinsi Kalimantan Tengah masih diberlakukan sebagai langkah memperkuat koordinasi dan kesiapsiagaan seluruh unsur pengendalian Karhutla.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menetapkan Status Siaga Darurat Karhutla sejak 26 Mei hingga 31 Oktober 2026.
Sejumlah kabupaten/kota juga telah menetapkan status kedaruratan. Kota Palangka Raya menetapkan Status Tanggap Darurat Karhutla sejak 28 Juli hingga 10 Agustus 2026, sedangkan Kabupaten Kotawaringin Timur menetapkannya mulai 30 Juli hingga 26 Agustus 2026.
Berdasarkan rekapitulasi data kebencanaan, Kalimantan Tengah juga mencatat 47 kejadian kebakaran hutan dan lahan serta 50 kejadian cuaca ekstrem.
Penanganan Karhutla hingga kini masih berlangsung melalui operasi darat dan udara. Personel gabungan dari BPBPK, TNI, Polri, Manggala Agni, Dinas Kehutanan, BPBD kabupaten/kota, regu pemadam swakarsa, relawan, serta unsur lainnya terus bersinergi untuk mengendalikan kebakaran dan menjaga keselamatan masyarakat.
Operasi tersebut akan terus dilakukan secara masif dengan mengedepankan kecepatan respons, pemantauan hotspot, pemadaman, pendinginan, serta pencegahan agar Karhutla tidak berkembang menjadi bencana yang lebih luas. (Red)
Tinggalkan Komentarmu