PALANGKA RAYA, Kaltenghits.com – Proyeksi Pulau Kalimantan sebagai Superhub Ekonomi Nusantara dinilai menjadi peluang strategis bagi Kalimantan Tengah (Kalteng) untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi melalui hilirisasi industri, pemerataan investasi, dan peningkatan konektivitas antardaerah.
Ekonom asal Kalimantan Tengah, Rio Kriswana, mendukung gagasan yang disampaikan Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy dalam 2nd Borneo Economic Forum di Kuching, Malaysia, pada 7 Oktober 2026.
Menurut Rio, pengembangan Kalimantan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi perlu diarahkan agar tidak hanya bertumpu pada pembangunan infrastruktur berskala besar atau keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN). Lebih dari itu, kawasan ini perlu membangun keterhubungan antara sumber daya alam, industri pengolahan, logistik, dan perdagangan regional sehingga manfaat ekonominya dapat dirasakan masyarakat secara luas.
“Ini momentum yang perlu dimanfaatkan pemerintah dan dunia usaha. Sumber daya alam harus diolah menjadi produk bernilai tambah, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat daya saing daerah. Ini salah satu keuntungan bagi daerah, termasuk juga perekonomian untuk masyarakat luas di Kalimantan Tengah,” tegas Rio, Rabu (21/10/2026).
Ia menilai, proyeksi Kalimantan sebagai superhub ekonomi membuka peluang bagi Kalteng untuk memperkuat struktur ekonomi sekaligus meningkatkan daya saing di tengah berbagai tantangan pembangunan.
Pertumbuhan Ekonomi Perlu Diperkuat
Rio mengungkapkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Kalteng tumbuh 4,80 persen sepanjang 2025 dengan produk domestik regional bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku sekitar Rp241,1 triliun. Kontribusi Kalteng terhadap struktur ekonomi Pulau Kalimantan tercatat sebesar 12,56 persen.
Namun, ia juga menyoroti data Bank Indonesia yang mencatat pertumbuhan ekonomi Kalteng pada triwulan II 2026 sebesar 3,53 persen secara tahunan. Angka tersebut berada di bawah pertumbuhan ekonomi regional Kalimantan sebesar 4,10 persen dan nasional sebesar 5,29 persen.
Menurut Rio, kondisi tersebut menunjukkan bahwa besarnya potensi sumber daya alam belum otomatis menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang optimal. Karena itu, produktivitas, investasi, dan pengembangan industri pengolahan perlu diperkuat.
“Kalteng memiliki basis perkebunan, pertanian, pertambangan, dan industri pengolahan. Potensi itu perlu dikembangkan agar daerah tidak hanya memasok bahan mentah, sementara nilai tambah, teknologi, dan pekerjaan berkualitas justru lebih banyak tercipta di luar daerah,” jelasnya.
Ia berharap peluang pengembangan superhub ekonomi dapat menjadi pendorong bagi Kalteng untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekaligus memperluas manfaat pembangunan bagi masyarakat.
Hilirisasi Sawit dan Pertanian Jadi Peluang
Rio menilai, salah satu langkah strategis yang dapat ditempuh Kalteng adalah memperkuat industri hilir berbasis perkebunan dan pertanian.
Pada sektor kelapa sawit, peluang pengembangan antara lain industri oleokimia, biodiesel, minyak goreng, dan berbagai produk turunan lainnya. Sementara itu, sektor pertanian dapat diperkuat melalui pengolahan hasil panen, fasilitas penyimpanan, serta sistem distribusi yang mampu menyerap produksi lokal secara berkelanjutan.
Pengembangan sektor-sektor tersebut dinilai dapat membuka peluang ekonomi bagi petani, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), tenaga kerja lokal, serta penyedia jasa logistik.
Untuk mendukung langkah itu, Rio menekankan pentingnya pembangunan konektivitas yang menghubungkan sentra produksi dengan kawasan industri, pelabuhan, jalur transportasi sungai, dan pasar.
Infrastruktur, menurutnya, harus dibangun sesuai kebutuhan ekonomi daerah dan mampu menjaga kelancaran distribusi. Selain itu, kepastian perizinan, ketersediaan energi, akses pembiayaan, kesiapan lahan, dan pelayanan investasi yang terintegrasi juga menjadi faktor penting.
“Investasi akan lebih bermanfaat ketika terhubung dengan kapasitas ekonomi lokal. UMKM perlu memperoleh kesempatan masuk ke rantai pasok, tenaga kerja lokal perlu mendapat pelatihan sesuai kebutuhan industri, dan perguruan tinggi dapat dilibatkan untuk meningkatkan teknologi serta produktivitas,” paparnya.
Kerja Sama Regional dan Keberlanjutan
Selain penguatan industri dan infrastruktur, Rio menilai kerja sama Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam berpotensi memperluas akses pasar bagi produk-produk dari Kalteng.
Kedekatan geografis antarwilayah, menurutnya, perlu diterjemahkan menjadi perdagangan, investasi, dan kemitraan usaha yang konkret. Dengan demikian, Kalteng dapat mengambil bagian lebih besar dalam rantai pasok dan perdagangan regional.
“Jadi, kedekatan geografis perlu diterjemahkan menjadi perdagangan, investasi, dan kemitraan nyata. Ini peluang yang sangat besar untuk Kalimantan, termasuk juga Kalteng,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pengembangan industri harus tetap memperhatikan aspek lingkungan. Upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla), melindungi sumber daya air, serta menghormati hak masyarakat lokal perlu menjadi bagian dari pembangunan ekonomi.
Rio menambahkan, penempatan Kalimantan sebagai kawasan strategis dalam agenda ekonomi nasional merupakan kesempatan untuk memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap arah pembangunan. Aspirasi mengenai pemerataan pembangunan perlu dijawab melalui kebijakan yang terukur di bidang infrastruktur, investasi, industri, dan peningkatan kesejahteraan.
“Pengakuan atas posisi strategis Kalimantan harus terlihat dalam hasil yang dirasakan masyarakat. Masa depan daerah diperjuangkan dengan memperkuat daya saing dan kontribusi dalam ekonomi nasional. Jadi, bagi Kalteng, superhub harus menjadi momentum naik kelas dari pemasok komoditas menjadi bagian aktif dalam rantai nilai regional,” pungkas Rio. (Red)

Tinggalkan Komentarmu